“Musim Semi Praha” Setengah Abad Lalu, Landasan Runtuhnya Partai Komunis


Video Channel:


50 tahun lalu yakni di tahun 1968, di Cekoslovakia yang saat itu dikuasai paham komunis, telah berkobar suatu gerakan demokrasi yang dikenal dengan sebutan “Musim Semi Praha”. Revolusi ini merupakan awal runtuhnya paham komunis dan hancurnya Uni Soviet. 

Pada tahun 1968, tepat 50 tahun yang lalu, telah berkobar suatu gerakan demokrasi di Cekoslovakia yang dikuasai oleh tirani paham komunis. Hal ini telah menjadi landasan runtuhnya partai komunis dan tercerai berainya Uni Soviet. 

Pada Januari 1968, Sekretaris Umum Pusat Partai Komunis Cekoslovakia yakni Alexander Dubček mengobarkan gerakan revolusi, agar dapat terlepas dari kendali Uni Soviet. Di saat yang sama, banyak surat kabar memuat “Manifesto 2000 Kata” yang ditandatangani oleh ilmuwan, sastrawan, artis, dan lain-lain, mengkritik bobroknya partai komunis, sekaligus menuntut demokrasi. 

Namun, pemimpin komunis Soviet memutuskan melakukan intervensi militer. Pada tanggal 20 Agustus 1968, sebanyak 5000 unit tank dan 200.000 orang prajurit dari Uni Soviet dan negara Pakta Warsawa memasuki Cekoslovakia, meredam gerakan demokrasi yang disebut “Musim Semi Praha” tersebut. 

Dampak lanjutan dari peristiwa itu sangat besar. Mantan dosen muda dari Fakultas Sains Pendidikan di Capital Normal University bernama Li Yuanhua menyatakan, setelah penindasan terhadap “musim semi Praha”, kalangan akademis di Uni Soviet dan Eropa Timur telah sepenuhnya kehilangan keyakinan dan harapan akan masa depan paham sosialis. Mereka benar-benar telah memahami bahwa selama berada di bawah kendali Uni Soviet, tidak akan pernah ada demokrasi. 

[Li Yuanhua, Mantan Dosen Muda Fakultas Sains Pendidikan di Capital Normal University]:
“Para tokoh intelek itu telah melihat kekejaman dan kebrutalan negara otoriter rezim komunis lewat peristiwa ‘musim semi Praha’ ini, jadi di bawah kekuasaan mereka tidak akan ada perbaikan kemanusiaan, bahkan tak ada kebebasan beragama dan demokrasi, sama sekali tidak mungkin. Maka semua orang pun berpikir, keyakinan paham komunis seperti ini harus ditinggalkan, agar dapat menghancurkan keseluruhan sistem seperti negara komunis ini pada akhirnya.” 

Peristiwa “musim semi Praha” secara serius berdampak pada dua negara komunis utama di dekatnya, yakni Polandia dan Jerman Timur. Bahkan kalangan intelek di Uni Soviet pun terkena dampaknya, mereka beranggapan bahwa paham sosialis seharusnya tidak sama dengan kebrutalan. 

[You Zhao-he, Mantan Dosen China University of Political and Law]:
“Peristiwa ‘musim semi Praha’ adalah dimana Uni Soviet mengirim pasukan menindas gerakan demokrasi di negara lain, dan itu sebenarnya adalah menindas demokrasi dengan kekerasan, menggunakan kendaraan tank menghadapi rakyat. Ini memang cara yang biasa ditempuh setiap rezim komunis yang ada, ini adalah karakternya.” 

[Zheng Haochang, Komentator Berbasis di AS]:
“Ada semacam ungkapan mengatakan, seberapa besar kekuatan yang dikerahkan, sebesar itu pulalah reaksi yang ditimbulkan. ‘Musim semi Praha’ mudah mengaitkan pikiran kita pada pembantaian 4 Juni di Tiananmen, dilihat dari jangka pendek, rezim PKT memang telah berhasil mempertahankan kestabilan dari permukaan selama bertahun-tahun, namun di saat yang sama juga membuat banyak rakyat Tiongkok sadar, dan telah menanggalkan harapan terhadap PKT. Jadi secara jangka panjang, hal ini sesungguhnya tengah mempercepat keruntuhan rezim PKT.” 

Setelah “musim semi Praha”, tuntutan demokrasi di Cekoslovakia tidak pernah surut. Bulan November 1989 serangkaian aksi unjuk rasa turun ke jalan, ditambah lagi dengan keruntuhan sejumlah rezim komunis di beberapa negara lain, secara bertahap telah mendesak komunis Ceko mengumumkan peletakan jabatan. Karena revolusi ini tidak menyulut aksi anarkis ataupun bentrok dalam skala besar, maka proses pergantian rezim pun berlangsung relatif mulus ibarat beludru atau Velvet, maka kemudian disebut “Revolusi Velvet”. 

You Zhaohe mengatakan bahwa “musim semi Praha” merefleksikan aspirasi rakyat yang mendambakan demokrasi, HAM, tertib hukum, dan kebebasan yang merupakan tren sejarah. Menurutnya, suatu saat Tiongkok juga akan melewati musim dingin yang kejam ini, dan seiring dengan runtuhnya Partai Komunis Tiongkok, negara Tiongkok akan menyambut datangnya “Musim Semi” yang sebenarnya.

0 comments